[REVIEW] OLYMPUS AF-1: Kamera Point and Shoot Waetherproof Auto Focus Pertama di Dunia


Olympus AF- Battery CRP2 and Film
Haihai Analogears!

Belakangan ini rame juga yaa, pemain kamera analog point and shoot atau pocket. Kalo orang jaman dulu nyebutnya ‘tustel’ yaa.. hehe 😀 Dan kali ini, Kamera Analog Jogja (KAJ) akan bahas tustel made in Japan, Olympus AF-1.

Olympus AF-1 Ads

OLYMPUS AF-1 (1986)

SEJARAH

Pada tahun 1980, Olympus sebenarnya sudah meluncurkan kamera canggih dengan ukuran kecil seperti pocket, yaitu Olympus XA. Kesuksesan Olympus memasarkan Olympus XA nampaknya membawa kepercayaan diri untuk melanjutkan generasi compact camera. Mulai dari XA, dilanjutkan dengan XA1, XA2, XA3, dan terakhir adalah XA4. Namun, sampai generasi terakhirnya, XA4 pun tidak dibekali lensa auto focus. Padahal, pasar kamera pada tahun 1980an sudah mulai di dominasi kamera-kamera dengan fitur auto focus. Akhirnya pada tahun 1986, Olympus merilis kamera pocket ‘canggih’ yang memiliki lensa seperti Olympus XA (Zuiko 35mm F2.8) tapi sudah auto focus, yaitu Olympus AF-1. Untuk pasar Amerika, kamera ini tidak tertulis Olympus AF-1 melainkan Olympus Infinity. Lalu di Jepang sendiri, kamera ini memiliki julukan Nuretemo-Pikaso atau sering disingkat dengan NurePika (Wet Flash) yang artinya kamera ini Weatherproof. Oleh karena itu, Olympus dengan bangganya mengklaim sebagai The World’s First Weatherproof Auto Focus Camera.

Olympus AF-1 in box

Bentuk dan ukuran Olympus AF-1 tebel, persegi panjang, besar, roundless, siku dan kaku (kalo menurutku sih..) Kalo boleh pinjam istilah Nokia jaman dulu, boleh dibilang design kamera ini adalah Candy Bar. Dimensi body-nya berukuran 124 x 62,5 x 45 mm dengan berat 225 gram cukup ringan kalo dibawa kemana-mana. Dari sisi depan, kamera ini tidak akan nampak seperti kamera. Karena bagian depan terdapat pintu geser untuk membuka lensanya. Konsep sliding lens cover ini sebenarnya sudah diterapkan pada Olympus XA, 6 tahun sebelum Olympus AF-1 keluar di pasaran. Nampaknya, Olympus cukup bangga dengan terobosannya ini, ya. Menurut saya, ide ini briliant. Kebanyakan kamera pocket keluaran 90-an mengusung sliding lens cover, tapi hanya geser untuk buka-tutup lensanya saja. Namun, pada Olympus AF-1 ini tidak hanya lensa yang terlindungi, tapi viewfinder, sensor cahaya dan auto focus sensor juga dapat diamankan. Selain fungsi melindungi, sliding lens cover ini juga sebagai pengganti tombol power On/OFF. Jika mau motret, tidak perlu tekan tombol ON, tinggal geser aja, kamera sudah ready to shoot.

Olympus AF-1 Zuiko Lens 35mm F2.8

FITUR

Kalian tidak akan menemukan banyak tombol pada kamera Olympus AF-1. Dari sisi atas, hanya nampak tombol Shutter, Self-timer, dan tombol Rewind. Dari sisi belakang kamera, hanya ada 1 tombol, yaitu Focus Lock. Memang Olympus AF-1 ini memiliki fitur minim, tapi pas buat kita yang ingin praktis dan cepat saat mengambil gambar. Apalagi kamera ini dibekali dengan lensa fix, Zuiko 35mm F2.8 cocok dahh buat street photography.

Olympus AF-1 Back

Olympus AF-1 membutuhkan battery CRP2 dengan tenaga 6V. Karena ukuran battery yang besar, membuat tutup battery dan tempat back film sejajar pada sisi bagian belakang kamera, hanya dibatasi 1 engsel saja. Saat battery dimasukkan, dan kamera pada posisi menyala, cukup kaget juga, rasanya mesin yang dibenamkan pada kamera ini cukup besar-besar part-nya, terdengar ‘serem’ suara shutternya.

Olympus AF- Battery CRP2 and Film

Kamera ini sudah full auto, baik fokusnya, flash-nya, dan shutter-nya sudah otomatis. Setelah film 35mm kita masukkan, Olympus AF-1 sudah dapat membaca berapa ISO Film yang kita pakai karena ada konektor DX Film-nya, jadi kita tidak perlu repot setting manual ISO Film. ISO Film yang cocok dengan kamera ini adalah Film dengan ISO 50 hingga ISO 3200. Dibekali dengan sensor cahaya yang berada pada bawah lensa, kamera ini sudah bisa ‘mikir’ sendiri kok, kapan harus nyala flash-nya dan kapan tidak perlu pakai flash light. Flash berada pada samping viewfinder, dengan recycle time 1 detik saja. Ada 2 kemungkinan flash kamera menyala otomatis, pertama saat kondisi kamera berada di tempat yang redup cahaya (indoor), kedua saat kamera mengarah ke objek yang backlight. Kecuali, jika objek terlalu kecil dalam viewfinder atau posisi jauh dari kamera, flash tidak menyala meskipun dalam kondisi backlight.

Auto Focus memang menjadi fitur unggulan pada kamera ini, kita hanya tinggal komposisi-kan objek pada tengah viewfinder, tekan focus lock, maka hasilnya akan tajam pada objek yang di tengah frame, dan bokeh pada bagian belakang objek. Jarak terdekat kamera ini 0.75 m hingga infinity. Jadi pertimbangkanlah jika kalian ingin mengambil foto objek dengan jarak dekat (close focus), jarak antara objek dengan kamera lebih baik jangan dibawah 75 cm, atau kalian akan hanya dapat fokusnya pada background belakang.

Titik auto focus hanya ada 1 dan berada di tengah viewfinder. Oleh karena itu, kita harus cerdas memanfaatkan fitur auto focusnya, misal kita ingin memotret satu orang, padahal kondisi di depan kita terdapat 2 orang atau lebih, maka orang yang akan kita ambil gambarnya harus berada pada tengah frame di viewfinder dulu, tekan focus lock dengan jari tangan kiri, baru kita geser (recompose) dan tekan penuh tombol shutter. Walaupun titik auto focus hanya satu berada di tengah viewfinder, bukan berarti dengan memakai Olympus AF-1 ini hanya bisa menghasilkan komposisi center, kita tetap dapat menghasilkan komposisi 1/3 bagian, ya. Be Smart, Please..

Olympus AF-1 juga dilengkapi dengan tombol ‘penyelamat’ film atau rewind yang kecil di bagian atas kamera ini. Jika sewaktu-waktu ada problem dengan penghitung frame film, lalu kita ingin mengambil film padahal sudah 14 kali jepret, maka kita tidak bisa mengambil filmnya dengan hanya membuka back kamera lalu menarik filmnya, tentu saja langkah itu akan merusak filmnya. Prosedurnya adalah, kita harus tekan tombol rewind ini menggunakan ujung pena atau tusuk gigi supaya mesin kamera dapat menggulungkannya hingga negative film kita masuk dalam canister film. Baru kita buka back kameranya. Save your frames from stupidity!

Dengan lensa Zuiko 35mm F2.8 membuat tustel ini berkelas, pasalnya rata-rata kamera pocket premium memiliki lensa fix wide dengan bukaan diafragma hingga F2.8. Bayangin aja, pake sensor 35mm fullframe dalam bentuk kamera pocket yang praktis, dengan nilai aperture 2.8 dijamin hasilnya bisa bikin bokeh. Hehe..

Fitur Self-timer juga sudah dibenamkan pada kamera ini, kita diberi waktu 12 detik untuk sekedar selfie. Permasalahan muncul bukan karena waktu pada self-timer ini, namun pada daya jangkau jarak terdekat kamera ini hanya 75 cm, sehingga rasanya sangat sulit bisa dapat fokusnya jika kita menggunakan tangan untuk selfie. Andai saja jarak terdekat kamera ini bisa 50 cm mungkin kita bisa memanfaatkan fitur selftimer untuk selfie dengan tangan kita. Self-timer pada Olympus AF-1 ini lebih cocok dipakai dengan tripod untuk foto bersama keluarga atau teman-teman.

Terakhir kita bahas fiturnya, Olympus AF-1 ini diklaim sebagai kamera tangguh dalam cuaca apapun (weatherproof) termasuk tahan air. Tapi, dalam buku panduan dijelaskan bahwa kamera ini bukan untuk motret sambil nyelem, motret saat hujan-hujanan lebat dan berjam-jam, bagaimanapun juga, kamera ini belum disiapkan untuk kebutuhan se-ekstrim itu. Tahan air artinya hanya sekedar terkena cipratan air, itupun juga harus segera dibersihkan dengan cara di lap, bukan dikeringkan dengan hairdryer lhoo yaa..

OLYMPUS AF-1 Ads

First impression dari kamera Olympus AF-1 ini adalah Bold, kokoh, dan cukup nyaman dipakai, suara motor drive lantang, lensa Zuiko terkenal tajam juga dengan tonal warna khas. Tidak mudah dimasukkan saku, karena ukuran relatif gedhe, yaa. Fitur minim, tidak ada sistem penanggalan (dates), tidak bisa macro (Close focus) dibawah 50 cm, tidak ada tombol Flash OFF, tidak masalah sih menurutku, asal lensa mampu Auto Focus (Bukan All Focus / Focus Free), dan dibekali Zuiko 35mm F2.8 sudah lebih dari cukup karena sadar diri kalo ini kamera pocket, kamera praktis, dan ingat waktu pertama kali rilis memang di akhir tahun 80an teknologinya baru sampai sini. Sangat berbeda sekali jika kita melirik fitur pada Olympus µ[mju:] Series, yang sudah sangat canggih karena rilis di tahun 1990an.

Desain body Olympus AF-1 tergolong besar, tebal, tidak ergonomis. Selain itu, yang paling fatal adalah tombol shutter-nya terbilang sensitif, bahkan saya tidak bisa merasakan half-press shutter-nya, tiba-tiba langsung jepret ajaa.. Memang menggunakan kamera ini tidak akan langsung puas dengan first roll, bukan karena hasilnya yang jelek, tapi karena banyak accident pada roll pertama akibat tombol shutternya. Jadi mesti berulang kali pakai, baru bisa memaksimalkan Olympus AF-1 ini. Selain itu, kamera ini tidak dilengkapi tombol Off pada Flash-nya, tentu ini merepotkan ketika kita ingin memotret objek yang tidak boleh memakai flash, atau mencoba ngincipi F2.8 lensanya saat low light. Alhasil, kita mau nggak mau harus puas F2.8 pada penggunaan outdoor.

HASIL JEPRET

Berikut hasil dari jepretan OLYMPUS AF-1 dengan Agfa Vista 200 develop in Hipercat Lab

Foto 1Foto 2Foto 3Foto 4Foto 5Foto 6Foto 7Foto 8
Ngincipi Zuiko 35mm F2.8 depan kantor Gubernur Jogja
Geboy at Kopiyuk
Fun with Self-timer
Fuck with Self-timer
On the Street! Olympus AF-1 Non Focus Lock
Olympus AF-1
On the Street. Olympus AF-1 with Focus Lock
Olympus AF-1
Close Focus Locked!
Olympus AF-1
Close Focus Failed!

KESIMPULAN

Bagi kalian yang ingin merasakan sensasi motret pakai kamera pocket premium namun harga masih logis, cobain deh Olympus AF-1 ini. Fitur yang minim bukan berarti membuat kamera ini banyak kekurangan, bagi yang demen street photography kamera ini adalah jawabannya. Lensa 35mm F2.8 Zuiko auto focus lens juga perlu kalian pertimbangkan untuk membeli kamera ini. Olympus AF-1 ini bukanlah kamera langka hingga saat tulisan review ini saya tulis, jadi harganya masih stabil di angka sekitar Rp 500.000 hingga Rp 750.000,- tergantung kondisi dan kelengkapannya. Mengingat pesaing ketat kamera ini diantaranya adalah adeknya sendiri, yaitu Olympus µ[mju:]-II dengan lensa Zuiko 35mm F2.8 juga, Nikon L35AF (Pikaichi) lensa Nikon 35mm F2.8, Minolta AF-S lensa juga sama 35mm F2.8, Ricoh AF-2 atau Ricoh AF-5 dengan lensa Color Rikenon 35mm F2.8, Canon AF35M dengan lensa Canon 38mm F2.8.

Well, akhir kata semoga tulisan review ini bisa membantu analogears di tanah air dalam memilih dan menggunakan kamera point and shoot. Tetep semangat belajar motret, jangan mudah menyerah jika hasil mengecewakan, jangan lupa beli film, and keep film alive!

User Manual

OLYMPUS AF-1 

 

Sumber 1

Sumber 2

-Salam Jepret Film

The Breakdown

Tidak semua orang tau jika kamera ini merupakan kamera auto fokus weatherproof tahan cipratan air pertama di dunia, karena tidak tertulis pada kamera. Namun keunggulan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Olympus di tahun 1986. Berbekal lensa fix Zuiko 35mm F2.8 mampu mensejajarkan dengan para pesaing di kelas pocket menengah ke atas.
Build Quality 7.6
Features 5.3
Handling 5.1
Availability 6.2
Value 7.7
Pros

- Compact 35mm Auto Focus Weatherproof Camera

- Zuiko 35mm F2.8 Lens

- Sliding Covers

- Battery sangat irit, tahan lama

Cons

- Desain body Olympus AF-1 besar, tebal dan tidak ergonomis.

- Tombol shutternya sangat sensitif, susah merasakan half-press shutter-nya, tiba-tiba langsung jepret. Uppss!!

- Tidak ada OFF Flash Button

- Battery yang susah dan mahal

2 Comments

  1. Avatar
    Yayan Subangkit
    14/05/2018

    Lengkap an bisa jadi referensi banget.. terima kasih

  2. Wihinggil Prayogi
    15/05/2018

    Makasih om Yayan sudah nyempetin berkunjung dan baca, semoga bisa jadi referensi yang bermanfaat 🙂

Leave a reply

Your email address will not be published.