[REVIEW] FILM: KODACHROME (2018) Sebuah Perjalanan Panjang Demi Melihat Masa Lalu


KODACHROME (2018). Sebuah film yang menceritakan tentang ‘Film’. Maksudnya??

‘Film’ yang dimaksud adalah film seluloid yang dulu dipakai sebagai sensor panangkap cahaya yang menghasilkan gambar dalam kamera analog / kamera film. Yaa, Kodachrome adalah merek, bukan jenis film yaa.. Inilah salah satu kekaguman saya membaca judul film ini. Judulnya adalah merek sebuah film positif buatan Kodak yang sudah mulai dihentikan masa produksinya sejak 2009. Film Kodachrome (2018) ini menurut saya adalah goal kedua yang dibuatkan karya dalam bentuk film, goal pertamanya adalah dalam bentuk lagu dengan judul yang sama, yaitu Kodachrome yang dinyanyikan oleh Paul Simon di tahun 1973. Dua goal tersebut membuktikan bahwa semua orang di planet ini meng-amini bahwa Kodachrome adalah film seluloid yang sangat bagus hasilnya, tak heran jika film ini fenomenal hingga dibuatkan film layar lebar dan lagu.

Kodachrome (2018)

Film yang bergenre drama ini di sutradai oleh Mark Raso dengan beberapa pemain bintang hollywood seperti Ed Harris,  Jason Sudeikis, Elizabeth Olsen yang menjiwai peran mereka masing-masing. Ed Harris sebagai Benjamin Asher Ryder (Ben), yaitu ayah dari Matt Ryder (Matt) yang diperankan oleh Jason Sudeikis. Sedangkan Elizabeth Olsen (Zooey) adalah suster pribadi Ben.

SEBAGAI MEDIA EDUKASI FOTOGRAFI ANALOG

Memasuki bulan April 2018, film Kodachrome ini tentu sangat-sangat ditunggu oleh para penggemar fotografi Film di tanah Air, ditengah naik daunnya lagi film photography di Indonesia, kini muncul film Kodachrome yang menambah kemeriahan euforia film photography. Film Kodachrome (2018) ini juga mengandung edukasi-edukasi klasik, khas bagi newbie dalam film photography, atau bagi yang tertarik mau terjun nyobain di fotografi analog. Seperti misalnya perdebatan kenapa tidak pakai digital saja di era yang serba canggih ini, mungkin ada yang sampai sekarang tidak menemukan jawabannya? Silakan tonton filmnya, semoga bisa menerima alasan kenapa masih ada orang mempercayakan hasil fotonya pada sebuah klise film seluloid.

Sisi edukasi diaduk lembut dalam sebuah obrolan keluarga yang hangat dan mengalir dalam berbagai situasi cerita pada film ini, sehingga tidak ada kesan menggurui. Bahkan kita tidak akan menyangka pada akhir cerita, “Siapakah Ben sebenarnya?”

Film drama rasanya aneh jika tidak ada unsur percintaan, oleh karena itu Mark Raso sudah menyiapkan skenario dari awal memasukkan pemeran asing di luar keluarga, yaitu Zooey sebagai suster perawat pribadinya Ben. Hampir 10 menit nonton film ini dari awal memang tidak memberi kesan bahwa ini film tentang film photography, justru cenderung banyak membahas tentang musik. Yaa secara pekerjaan Matt adalah Manager Band yang terancam dipecat dari sebuah perusahaan rekaman karena gagal membawa band yang diasuhnya ke gerbang album kedua. Direktur perusahaan rekaman tempat Matt bekerja memberikan kesempatan lagi kepada Matt untuk segera mendapatkan band baru, yaitu Spare Sevens.

 

Pada waktu-waktu yang sulit bagi Matt itu, Zooey justru tiba-tiba muncul di ruang kerjanya untuk mengabarkan bahwa Ayahnya ‘sekarat’ mengidap penyakit kanker hati, dan waktu hidupnya tdak akan lama lagi. Zooey mengabarkan bahwa, Ben menemukan 4 roll Kodachrome yang pernah dipakai untuk memotret tapi belum pernah dicuci filmnya. Ben ingin menggelar pameran foto terakhirnya dari 4 roll Kodachrome tersebut. Saat itu hanya ada satu tempat di dunia yang masih bisa memproses cuci film Kodachrome, yaitu di Dwyne’s Photo, Parsons, Kansas. Ben sangat menginginkan keempat roll film Kodachrome-nya diproses cuci di sana. Namun, melihat kondisi Ben, rasanya tidak mungkin untuk terbang ke Kansas, dia ingin ke Kansas bersama anaknya, Matt lewat jalur darat.

 

 

PERJALANAN PANJANG DEMI KODACHROME

Permasalahan keluarga menjadi kunci alur cerita film ini, jika tidak ada masalah antara Matt dan Ben, mungkin film ini akan menjadi lebih singkat durasinya. Matt sangat anti terhadap bapaknya, bahkan terkesan tidak sudi untuk menemui bapaknya yang sedang sekarat mengidap kanker hati. Terlebih karirnya terancam kandas jika dalam 2 minggu tidak segera mendapatkan tanda tangan kontrak album kedua Spare Sevens. Namun, atas rayuan Zooey yang memberi tahu bahwa ini permintaan terakhir Ben sebelum meninggal, akhirnya Matt luluh, dan mau menemui Ben. Negosiasi pun dimulai, Ben tahu karir anaknya di bidang musik sepertinya tidak lama lagi, maka jurus take and give dikeluarkan. Supaya Matt mau menemani perjalanan panjang ke Kansas, akhirnya Ben berjanji akan menemukan Matt dengan Spare Sevens. Awalnya Matt tidak percaya, namun melihat peluang tersebut, akhirnya Matt mau untuk menemani perjalanan dari New York ke Chicago dulu baru ke Kansas untuk memproses film Kodachrome terakhirnya.

Dalam perjalanannya mereka berdua tentu ditemani oleh suster cantik Zooey, yang sudah bisa kita cium aroma Cinlok… Dalam adegan inilah kita banyak melihat perselisihan ringan antara Matt dan Ben yang terjadi ketika di mobil, di motel, di café, mengenang masa lalu, apa saja yang ben kerjakan selama ini, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya penonton akan sadar, alasan kenapa Matt sangat membenci ayahnya sendiri. Ben dan Matt adalah dua sosok yang memiliki karakter keras, Ben sering lepas kendali, kalo ngomong seenak jidatnya, tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Kodachrome (2018)

Setelah sampai di tempat bertemunya Matt dengan Spare Sevens, Matt bahkan sempat diminta untuk presentasi kepada Ben, bagaimana Matt meyakinkan Spare Sevens untuk album keduanya. Namun dimata ayahnya, Matt terlihat sangat pengecut.

Sesampainya di café dan minum bir memulai presentasi, ngobrol santai bersama Spare Sevens. Sebuah moment langka bagi Matt bisa bertemu intim dengan seluruh personil band Spare Sevens. Matt nampak gugup, sangat tidak confident, hingga pada akhirnya Ben kencing dicelana dan… (tiiiii…iiittt)

Kodachrome (2018)

Setelah memenuhi keinginan anaknya, Matt akhirnya mau nggak mau harus pergi ke Kansas. Mulai di adegan ini, Matt nampak lebih lunak dibanding di awal-awal. Selain itu, di lab foto Dwyne itulah dia kaget sekaligus kagum, begitu besar nama ayahnya, Benjamin Asher Ryder di kalangan fotografer. Bahkan seorang fotografer Ernie Coates dari National Geographic pun meminta foto bareng dengan Ben, lalu ada seorang bernama Rick Ross yang pernah jadi rekan kerja di Reuters. Bahkan Steve McCurry juga disebut dalam film tersebut. Memang banyak fotografer berkumpul di Kansas demi mencuci film Kodachrome terakhirnya. Seperti dijadwalkan hari itu adalah hari terakhir lab foto Dwyne menerima proses cuci film Kodachrome.

Kodachrome (2018)

Malam harinya, di motel tempat mereka menginap, seperti biasa Ben membersihkan kamera kesayangannya Leica M-4P silver sambil duduk di kursi kamar. Dan berkata lirih “Apakah kamu mendengarnya?” Namun mungkin itu menjadi kalimat terakhir Ben, meninggal dalam keadaan duduk bersama dengan Leica-nya. Hingga akhirnya, Matt menyadari bahwa Ben telah tiada.

Kodachrome (2018)

 

PENGHORMATAN TERAKHIR SANG FOTOGRAFER LEGENDARIS

Satu hal yang membuat saya kagum di film ini, yaitu proses membawa jenazah Ben dari kamar motel ke mobil jenazah nya dihadiri oleh banyak fotografer dan mereka semua menekan tombol shutter dan menyalakan lampu blitz kameranya ketika jenazah Ben melewati mereka masing-masing. Layaknya upacara pemakaman tentara sebagai penghormatan terakhir. Ini yang bikin kita trenyuh, sebegitu besarnya, sebegitu pengaruhnya Benjamin Asher Ryder di dunia fotografi.

Kodachrome (2018)

Setelah kematian Ben, akhrinya film Kodachrome yang telah diproses cuci, diantarkan langsung oleh Dwyne kepada Matt. Larry Holdt manager Ben, mengatakan bahwa Ben ingin anaknya sendiri yang akan mengurasi karya foto-foto dari 4 roll film Kodachrome untuk pameran terakhirnya. Matt terdiam, pikirannya berkecamuk tak karuan, dia seperti merasa bersalah setelah kepergian ayahnya. Selama ini dia sering menyalahkan ayahnya, bahwa ayahnya tidak pernah mau melihatnya, padahal Ben profesinya adalah melihat dan mengabadikan moment. Justru dari 4 roll Kodachrome yang diproses itulah Matt akhirnya sadar, bahwa Ben selalu melihat Matt sejak masih bayi. Foto dari klise seluloid-nya menjadi bukti yang otentik untuk menjawab semua pertanyaan Matt, yang tak pernah terjawab secara lisan oleh Ben.

Ending yang mengharukan memang, yaap.. itulah cerita di Film Kodachrome yang sudah tamat riwayatnya. Kita ucapkan selamat tinggal untuk Kodachrome dan Ben. Hiks.. ☹

Kodachrome (2018)

 Anyway,. denger-denger Kodak menyiapkan penggantinya, yaa?!  Ektachrome is coming back!!

Kodachrome (2018) + Indonesia Subtitle:

Download

 

Official NETFLIX Trailer

 

Kodachrome (2018) Soundtrack

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published.