Mengenal dan Memanfaatkan Light Meter


Oleh: Ferry Ardianto

Gossen Light Meter

Mengenal dan Memanfaatkan Light Meter – Exposure meter yang akrab disebut light meter, merupakan alat penting yang tidak dapat begitu saja ditinggalkan. Dan tanpa disadari, kehadirannya telah menambah rasa percaya diri bagi seorang fotografer.

Pencahayaan yang tepat merupakan sesuatu yang penting untuk keberhasilan pemotretan. Tetapi sesuatu yang penting ini bukan merupakan masalah yang sangat merepotkan karena jenis film yang kita gunakan dibuat dengan sensitivitas tertentu yang biasa disebut ISO (ASA atau DIN). ISO akan menginformasikan pada seorang pemotret mengenai kepekaan film terhadap cahaya.

Di sisi lain, light meter atau pengukur cahaya berfungsi untuk membantu kita dalam menentukan bukaan diafragma dan kecepatan rana yang sesuai dengan kepekaan film yang dipakai. Penentuan atau penyesuaian inilah yang disebut ‘proses pengukuran cahaya’.

Saat ini terdapat dua jenis pengukur cahaya, yaitu:

1. Berada di dalam kamera (Built-in camera meter)

2. Dipegang oleh tangan (Hand-held meter). Jenis meter di dalam kamera dimiliki oleh seluruh jenis kamera SLR 35mm. Sedangkan hand-held meter lebih banyak digunakan oleh pemakai kamera jenis medium format dan view camera, yang pada umumnya tidak memiliki fasilitas built-in meter.

 

Secara umum hand-held meter dibagi lagi menjadi 3 jenis sesuai dengan sifat khususnya, yaitu light meter, spot meter dan color meter.

 

SISTEM UKUR CAHAYA

Pada prinsipnya pengukuran cahaya dapat dilakukan dengan 2 cara:

  1. Reflected light readings:  yaitu mengukur cahaya yang dipantulkan oleh banyak objek yang akan kita foto.

Cara ini dapat dilakukan oleh hand-held meter, maupun meter dalam kamera SLR 35mm atau menggunakan spot meter. Beberapa kamera SLR 35mm, dewasa ini telah dilengkapi pula dengan fasilitas spot meter. Namun hand-held spot meter masih banyak dicari terutama mempermudah dalam pemotretan interior ataupun lansekap.

Pengukuran dilakukan dari arah kamera ke obyek dengna memakai pedoman Kodak Neutral Test Card, yaitu sebuah lembaran kartu berwarna abu-abu buatan Kodak yang memantulkan 18% cahaya ke arah kamera . Lazimnya disebut medium grey tone.

Yang paling menguntungkan dalam melakukan reflected light readings adalah didapatnya pengukuran yang tepat sekali pada poin-poin terpenting, misalnya antara obyek yang paling terang dan yang paling gelap, akan ditemukan medium grey tone-nya (Cahaya rata-rata).

 

 2. Incident Light Readings:  Mengukur cahaya yang datang ke arah obyek yang akan difoto.

Alat ukur cahaya yang lazim dipakai adalah hand-held meter. Pada pengukurannya, kekontrasan antara gelap dan terang tidak dapat dibaca oleh meter.

Metode ini banyak digunakan para pemotret karena merupakan cara tercepat dan termudah untuk membaca situasi pencahayaan.

Pengukurannya dilakukan dengan cara mengarahkan light meter pada sumber cahaya.

Broncolor Light Meter

Hampir semua jenis kamera SLR 35mm dapat melakukan pengukuran cahaya secara otomatis. Kelemahannya, kamera ini hanya dapat melakukan pengukuran cahaya secara reflected reading, yang otomatis memerlukan sumber cahayayang sifatnya kontinyu. Misalnya matahari, lampu pijar.

Lalu bagaimana bila kita harus menggunakan lampu kilat di dalam studio atau bila ingin mengkombinasikan (Mix light) antara cahaya yang kontinyu (continuous-light) dengan cahaya kilat (flash-light), misalnya? Nah, dalam situasi seperti inilah kita membutuhkan hand-held light meter.

Pengukur cahaya jenis hand-held ini dapat digunakan untuk hampir semua situasi, baik indoor maupun outdoor, baik untuk mengukur continuous-light maupun flash light.

Sekonic Spectromaster C700

Adalagi jenis hand-held meter yang khusus dipakai untuk mengukur kondisi ‘temperatur warna’, yaitu Color meter.

Prinsip pengukuran berdasarkan ‘derajat kelvin’ yaitu suhu warna cahaya.

 Saat ini, ada 3 jenis film berwarna yang masing-masing memiliki temperatur warna yang berbeda:

  1. Jenis film Daylight bertemperatur 5500 derajat Kelvin.
  2. Jenis film Tungsten type A bertemperatur 3400 derajat Kelvin.
  3. Jenis film Tungsten type B bertemperatur 3200 derajat Kelvin.

Karena setiap jenis film mempunyai kepekaan terhadap temperatur warna, maka diperlukan color meter untuk mengukurnya. Alat ini akan memastikan apakah cahaya yang kita gunakan dalam pemotretan sudah tepat dengan film yang dipakai. Jika belum tepat, color meter akan menginformasikan pada kita:

  1. Berapa temperatur warna yang sedang kita gunakan.
  2. Apabila temperatur tersebut belum sesuai dengan jenis film yang kita pakai, maka alat ini akan menginformasikan jenis filter apa yang harus kita gunakan sebagai kompensasi, agar dapat mencapai ‘derajat Kelvin’ yang sesuai.

 

Pengukuran ini menjadi sangat penting apabila kita memotret dengan menggunakan jenis film slide, dan mengharapkan mutu warna yang baik. Color meter juga dapat digunakan untuk mengukur temperatur pada cahaya alam, maupun temperatur dari cahaya lampu kilat.

MELIRIK HAND-HELD METER DI PASARAN

Sistem penukuran cahaya pada kamera lahir seiring dengan hadirnya kamera. Namun photoelectric meter pertama, lahir dalam bentuk sederhana tahun 1920 dengan sistem sensor selenium cell yang menampung seberapa besar kuat cahaya yang masuk, kemudian diisyaratkan pada tangkai penunjuk. Selanjutnya prinsip sederhana tersebut kian diperbarui sampai pada sistem komputerisasi yang dapat ditemui di pasaran.

Saat ini, merek serta jenis hand-held meter yang beredar di pasaran memang tidak terlalu banyak. Laku pasarnya pun jauh rendah bila dibanding dengan kamera. Namun seperti yang diakui Rudi Susanto, manajer pemasaran sebuah produk fotografi, walau alat ini bukan merupakan produk utama dari segi omset, tetapi tetap memiliki pasar yang bagus karena terus dicari orang.

Para pemakai dan peminat hand-held meter kebanyakan para pemotret yang mulai serius dengan fotografi dan akan meningkat pada tahap profesional serta kalangan fotografer profesional yang selalu menggunakan alat ini.

Di pasar Indonesia dapat ditemui merek-merek light meter seperti Sekonic, Gossen, Pentax, Minolta dan Broncolor, dengan harga beragam, dari Rp 50.000,- sampai Rp 2.500.000,- (tahun 1994) dari sistem yang paling sederhana sampai program lengkap dan mutakhir. Merek seperti Sekonic, Minolta dan Broncolor kini lebih mudah ditemui di pasaran, karena sudah ada penyalur resminya di Indonesia. Sedangkan untuk beberapa merek lainnya memang masih jarang ditemukan.

PEMELIHARAAN

Sering orang menganggap memelihara hand-held meter tidak perlu serapi memelihara kamera dan lensa. Tentunya hal ini sangat keliru, karena selain cepat kotor juga mudah rusak. Akibatnya, seperti yang pernah dikeluhkan beberapa konsumen, hand-held meter-nya tidak akurat lagi.

Penyebabnya sederhana saja, kotoran atau debu yang menempel pada cell menghalangi cahaya masuk sehingga terjadi kelebihan pencahayaan (over exposure). Namun sering pula terjadi, fotografer ternyata tidak menyadari kalau baterainya sudah habis.

Source

 

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published.