Memotret Badak Jawa dengan Kamera Otomatik


Oleh Harry Surjadi

Memotret Badak Jawa – Sosok badak jawa yang langka, yang populer sebagai maskot Tahun Kunjungan Wisata 1991 itu, sepertinya sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Namun dalam kenyataannya sulit sekali untuk melihat sosok badak jawa secara langsung.

Dan kalau untuk melihat badak jawa yang sekarang hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) itu saja sudah amat sulit, apalagi memotretnya. Terbatas sekali fotografer yang berhasil memotret badak bercula satu itu.

Sejumlah peneliti Belanda, pernah memotretnya. Foto badak jawa yang paling banyak dipakai saat ini adalah foto-foto karya Allain Compost, seorang fotografer warga negara Indonesia kelahiran Perancis.

Seorang peneliti dari World Wide Fund for Nature, Mike Griffith, yang bekerja sama dengan Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan, awal tahun 1991 lalu bahkan memasang 34 buah kamera di segenap penjuru TN Ujung Kulon untuk menghitung jumlah badak jawa yang semakin menurun itu.

Selama ini perhitungan populasi badak hanya berdasarkan perhitungan jejaknya saja. Namun dari data yang didapat dari sensus jejak itu tidk bisa untuk memastikan jumlah tiap jenis kelaminnya.

Sensus Mika dengan kamera yang dijalankan secara otomatis untuk menghitung populasi badak itu adalah suatu cara yang baru pertama kalinya dilakukan di TNUK. Dan sebelum melakukan sensus di TNUK itu, Mike sudah pernah menggunakan cara dan kamera yang sama di Sumatera, juga untuk memotret badak jawa.

Sebenarnya, penggunaan kamera otomatis yang bekerja dengan sistem camera trapping itu bukanlah hal yang amat baru. Selama ini, alat seperti itu sudah sering digunakan untuk memotret binatang liar di habitatnya.

1. Nikon F-401, setelah dimodifikasi dimasukkan ke dalam kotak yang dirancang khusus anti air.
2. Inilah perlengkapan kamera dan kotak yang anti air.

 

Prinsip camera trapping amat sederhana. Pada jalur yang diperkirakan akan dilewati binatang, diletakkan papan injak. Di bawah papan injak ini terletak sensor yang dihubungkan dengan pembuka rana kamera yang memang diarahkan ke tempat papan injak.

Untuk memotret badak jawa Mike memakai kamera Nikon F-401 yang dilengkapi dengan data back guna mencatat waktu pemotretan. Lensa yang dipakainya adalah lensa 35mm. Agar terlindungi dari hujan, kamera-kamera dengan lampu kilatnya itu dimasukkan dalam kotak-kotak kedap air yang dilubangi untuk lensanya.

Berbeda dengan kebiasaan, lampu kilat yang dipakai menggunakan sumber tenaga aki enam volt. Agar daya listrik bisa terus tersedia karena durasi pemotretan ini bisa sampai beberapa minggu, aki yang dipakai dihubungkan dengan panel sel surya yang akan ‘mengisi’ aki itu di siang hari secara otomatis.

Lampu kilat diletakkan pada jarak kurang dari satu meter dari posisi kamera, sedangkan panel sel surya diletakkan di pucuk pohon yang paling tinggi agar mudah terkena sinar matahari.

Ketika ada binatang dengan berat tertentu yang menginjak papan injak, kamera dan lampu kilat akan bekerja. Papan injak, kamera dan lampu kilat yang disamarkan dengan berbagai daun-daunan membuat binatang tidak curia saat melintas.

3. Kamera dan lampu kilat diletakkan di jalur yang diperkirakan sering dilalui oleh badak. Papan injak tidak tampak karena disamarkan. Tampak di sebelah kiri kamera Mike Griffith dan sebelah kanan kamera adalah lima petugas yang membantu sensus badak dengan kamera.

 

KOORDINAT KAMERA

Memotret badak jawa dengan cara camera trapping tampaknya mudah. Tetapi, agar sensus dengan pemotretan itu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, penerapannya menjadi tidak sederhana lagi. Penempatan peralatan, yaitu jarak antara satu kamera dengan kamera lainnya, juga jarak papan injak dengan kamera, harus dipertimbangkan khusus.

Sebelum semua kamera dipasang, lebih dahulu ditentukan posisi pada peta. Untuk menentukan koordinat lapangan, Mike menggunakan satelit dengan GPS (Global Positioning System).

Tetapi di lapangan, penempatan kamera tidak selalu tepat seperti perencanaan di peta. Posisi final kamera banyak ditentukan oleh kondisi hutan dan perkiraan jalur yang sering dilalui oleh binatang atau badak.

4. Perlengkapan camera trapping pada posisinya. Kamera dalam kotak, blitz dalam kotak, aki untuk sumber tenaga blitz, panel sel surya untuk mengisi aki, dan papan injak yang dihubungkan ke kamera. Ketika papan injak terinjak badak, kamera dan blitz akan bekerja.

 

Seharusnya, berdasarkan kemampuan angkut, bisa dipasang 40 kamera dengan perlengkapannya. Satu set perlengkapan beratnya 15 kilogram. Kenyataannya jumlah itu tidak bisa dipenuhi dan hanya 34 kamera yang berhasil dipasang.

Menurut Mike, badak dan binatang lainnya tidak perduli dengan bunyi kamera dan cahaya blitz. Tetapi anjing hutan sempat merusakkan tiga kamera yang sudah dipasang. Selain itu, empat lampu kilat juga diambil atau dibuang manusia.

Mike menduga ada pemburu badak liar yang tidak sengaja menginjak papan injak ketika hujan lebat. Pemburu itu mungkin hanya melihat kilatan cahaya tetapi tidak mendengar bunyi kamera, sehingga hanya mengambil kilatnya saja.

Film dari setiap kamera yang terpakai atau tidak terpakai secara rutin diambil setiap empat sampai enam minggu. Saat mengambil film, anggota tim harus mengganti daun pembungkusnya yang sudah kering dengan daun yang baru dan memastikan semua peralatan masih bisa bekerja dengan baik. Jika ada yang tidak bekerja harus diperbaiki atau diganti dengan yang baru.

 Apa yang didapatkan setelah 34 kamera itu dipasang selama setahun lebih?  Menakjubkan! Selain badak, terfoto juga sejumlah binatang lainnya seperti anjing hutan, macan kumbang, macan tutul, kijang banteng dan juga babi.

5. Inilah badak yang terfoto oleh kamera. Melalui foto bisa diamati sosok badak dengan lebih teliti. Misalnya badak betina terbukti tidak memiliki cula.
6. Selain badak, kamera yang dipasang di Ujung Kulon juga merekam binatang lainnya seperti harimau kumbang.
7. Selain badak, kamera yang dipasang di Ujung Kulon juga merekam binatang lainnya seperti macan tutul.

Setelah dianalisa dan dilakukan perhitungan, Mike memperkirakan populasi badak jawa masih ada sekitar 37-58 ekor. Jumlah minimum absolut 27 ekor, minimum realistik 37-48 ekor, perkiraan paling baik 46 ekor, perkiraan berdasarkan jangkauan kamera 46-58 ekor.

Dan yang lebih menarik, seekor badak besar yang diberi nama Kinko, pada hari-hari terakhir tidak ditemukan lagi nampang kamera. Mike memperkirakan sudah ditembak pemburu liar.

 

Source

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published.