LENSA JERMAN-LENSA JEPANG, BAIK MANA?


all varian lens
Di saat produk-produk optik Jepang jor-joran dengan apa yang diperkenalkan sebagai Multi-Coated, dengan kepeloporannya Asahi Optical Co, yang memasarkan lensa-lensa dengan coating photo HEA bagi kamera Asahi Pentax-nya dengan nama dagang SMC Pentax (SMC = Super Multi Coated), nampaknya Jerman tenang-tenang saja, karena konon ‘tanpa coating’ pun lensa-lensa keluaran Zeiss dan Leitz sudah terkenal amat baik mutunya, apalagi bila bahan bakunya berupa Jena Glass, wah semua orang juga sudah tahu kehebatannya. Tetapi bila akhirnya mereka juga ‘ikut-ikutan’ menerapkan multi-coating, mungkin adanya pengaruh dan desakan pasar.Leonardi

Oleh Leonardi

Kini, terlepas dari benar-tidaknya ‘rumor’ di atas, pada seri tulisan mengenai optik ini yang pertama, pernah disinggung soal lensa Leitz Elmar 50mm f/3.5 yang sempat diagung-agungkan oleh penggemarnya. Dalam kurun waktu yang lebih panjang, kemudian lensa Summicron 50mm f/2 ‘menggantikan’ kedudukan Elmar-50, bahkan sampai hari ini, setelah dibubuhi huruf ‘M’ dan ‘R’ menjadi Summicron-M dan Summicron-R, untuk membedakan penggunaanya, M untuk model Rangefinder, dan R bagi model Reflex, soalnya sejak versi pertama hingga kini lensa ini dikenal sebagai lensa ‘unggul segala-galanya’.

leitz elmar 50mm f/3.5

Di zaman orang-orang dipaksa untuk lebih mencari lensa yang lebih besar bukaan lensanya, atas pengaruh pasaran optic Jepang, Leitz pun mengeluarkan lensa 50mm f/1.4 yang diberi nama Summilux 50mm f/1.4. Lensa ini kenyataannya hanya amat unggul pada kontras optiknya saja. ‘T’ semua, sedangkan daya-pisahnya hanya ‘I’ mulai f/5.6 hingga f/16 (terkecil), lainnya ‘SB’ dan ‘B’ saja nilainya. Entah di mana letak kesulitannya dalam membuat lensa normal ini, karena produk lain dengan nama sama : Summilux-M 75mm f/1.4, kemudian Summicron-M 90mm f/2 dan Summicron-M 35mm f/2, ditambah Elmarit-M 28mm f/2.8, semuanya tampil tanpa cela, bertaburan sandi ‘I’ dan ‘T’ pada semua kedudukan tanpa terkecuali. Bahkan lensa-lensa bagi sang ‘adik’, Leica CL pun baik yang Summicron-C 40mm f/2 maupun Elmarit-C 90mm f/4 sama cemerlangnya tanpa cacat!

leica CL with Minolta Rokkor and Summicron

Walaupun lensa-lensa di atas faktanya merupakan pelengkap kamera-kamera Leica model rangefinder, pada dasarnya secara minimum ia pun dapat mewakili kualitas lensa-lensa setipe bagi Leica model SLR.

leitz Elmar-C and Summicron-R

Khusus soal penyelaputan anti refleksi (anti reflection coating) pada publikasi yang beredar tetap tidak menyinggung soal Multi-Coating itu, selain hanya disebutkan bahwa dengan teknologi mutahirnya mereka telah menciptakan lensa-lensa amat tinggi mutunya dengan hamper 100% cahaya dapat ditransmisikan, bahkan masih tambah ‘Absorban’, suatu lapisan perekat yang berperan untuk mengabsorbsi, menyerap sinar ultra violet sehingga menjamin semua produk lensa-lensanya yang berjarak fokus mana pun, akan menjaga atau mempertahankan transmisi warna visual yang aman, itu saja.

Lalu betulkah lensa Jerman lebih unggul daripada lensa Jepang? Kebetulan sekali ada perusahaan Jerman, Zeiss, yang bergabung dengan perusahaan Jepang, (Yashica kini telah diambil alih oleh Kyocera) pada pertengahan decade 70-an.

Yashica FX3 with Carl Zeiss Planar

Carl Zeiss sejak dulu sudah membuat kamera Contax berikut lensa-lensa Tessar, Planar, Distagon, Sonnar. Ketika pabrik ini bangkit kembali tahun 70-an, pasarannya tidak lagi “menggaung” seperti mereka harapkan, karena dunia fotografi sudah didominasi Jepang. Mungkin karena itu akhirnya mereka merger, mula-mula bodi kamera dibuat oleh Yashica, namun lensa-lensanya tetap dibuat oleh Carl Zeiss. Maka pada ‘anak’ pertama hasil “perkawinan” Jerman-Jepang ini lahir kamera Contax RTS yang bodinya buatan Jepang dan lensanya buatan Jerman dipasarkan secara global oleh Yashica. Namun belakangan produksi lensa pun dilakukan di Jepang, konon beberapa ahli optic Carl Zeiss bekerja sebagai penyelia di pabrik Yashica.

Contax RTS Ads

Kin kita coba tengok dimana letak perbedaan mutu teknis di antara produk senama lain pabrik itu. Carl Zeiss Planar T* 50mm f/1.4 yang buatan Jerman memiliki daya-pisah yang tinggi sekali pada bagian tengah, kecuali pada bukaan terkecil f/16, turun satu tingkat menjadi ‘SB’, sedangkan pada bagian pinggirnya rata-rata ‘SB’ saja. Kontras optiknya termasuk rendah, karena nilai ‘M’ hanya kalau kita pilih bukaan f/4 saja, ini pada bagian tengah. Bagian pojoknya? Hampir serupa, hanya sejak bukaan f/4 hingg f/11 kontras-optiknya melonjak ke ‘T’ selebihnya ‘R’. Versi Jepang pertama adalah Planar 50mm f/1.4 ternyata daya-pisahnya di bagian tengah terdiri dari ‘kombinasi’ B-SB-I namun di bagian pinggir ia unggul sekali. Yang menarik adalah pada kontras-optiknya hampir ‘T’ semua kecuali pada f/16. Tetapi kedua-duanya dinilai kurang bagus. Maka kemudian keluar versi ketiga: Planar T* 50mm f/1.4 buatan Yashica juga (yang ini pakai T*), tapi hasilnya malah di bawah produk sebelumnya, baik pada daya-pisah maupun kontras-optiknya. Dari hasil test yang dilakukan oleh pihak independen, dinyatakan bahwa tetap lensa-lensa Zeiss dari segala tipe lebih unggul daripada yang buatan Yashica. Diakui kemudian lensa normal terbaik untuk Contax adalah Zeiss Planar T* 50mm f/1.7, lalu berbagai lensa sudut lebar (wide angle) Zeiss Distagon T* juga amat unggul dan mengesankan. Ya inilah jawaban yang mungkin ingin anda ketahui.

Carl Zeiss Planar 50mm T*

 

Yang sudah melakukan perkawinan antar benua selain Contax dengan Yashica, juga dilakukan oleh Leitz dengan Minolta. Bedanya produk perdana mereka dilakukan dengan kerjasama agak unik. Mula-mula Leitz membuat Leica CL dengan lensa-lensa buatan Leitz juga seperti sudah diuraikan di depan. Kemudian Minolta meggantikan produk massa Leica CL ini dengan menciptakan Minolta CLE yang dilengkapi lensa-lensa M-Rokkor. Desain kamera CLR mirip sekali dengan CL, dudukan lensanya pun dengan bayonet yang sama, jadi ini semacam saudara kembar lain bapak. Mengenai keunggulan elektronis, Minolta sudah terkenal, kan dua buah produknya pernah diikutkan ke misi luar angkasa NASA, ialah kamera Minolta Autoset 35 yang dirancang khusus dan pengukur cahaya Minolta Auto Spot 1 yang dimodifikasi menjadi ‘Space Meter’. Namun dari 3 buah lensa yang dibuat bagi Minolta CLE itu, daya-pisahnya terunggul hanya pada bagian pojok/pinggirnya saja, ‘I’ semua, sedangkan bagian tengahnya diisi dengan nilai-nilai ‘I’ dan ‘SB’, jadi kalah unggul dibandingkan dengan yang “asli” buatan Leitz.

 

Minolta CLE Black with accesorries

Kontras-optiknya yang 40mm f/2 dan 28mm f/2.8 juga unggul di bagian pinggir dan pojok, bagian tengah yang pertama kurang baik, dan yang kedua sedikit lebih baik, sedangkan yang 90mm f/4 secara rata-rata kurang baik mutunya. Jadi sekali lagi perbandingan mutu produk ‘sepenyelia’ ini condong ke ‘barat’ kualitasnya. Ada komentar?

Catatan mengenai Sandi Nilai :

I Istimewa
SB Sangat Baik
T Tinggi
C Cukup
B Baik
R Rendah
SR Sangat Rendah
Sumber

 

Sumber Foto

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published.